Sariamin Ismail, Penulis Wanita Minang Penuh Inspirasi

Sariamin Ismail, Penulis Wanita Minang– Hi, Womanesia,

Google selalu memasang gambar doodle unik setiap momen tertentu, baik itu dalam rangka merayakan hari libur atau hari raya, ulang tahun tokoh bersejarah atau orang penting dan momen penting lainnya.

Gambar doodle tersebut dibuat oleh berbagai seniman di seluruh dunia, dan dimulai sejak tahun 1998 yang lalu.

Pada tanggal 31 Juli 2021 lalu, tokoh yang terpilih menjadi gambar logo dari mesin pencari paling laris itu adalah Sariamin Ismail.

Seorang pelopor wanita dalam bidang penulis novel yang menerbitkan novel 88 tahun yang lalu, dalam rangka memperingati hari ulang tahunnya yang ke 112 tahun.

Dia bukan sekadar penulis, Sariamin adalah seorang pengajar, aktivis dan sosok pahlawan wanita yang melawan penjajah lewat tulisan-tulisannya.

Kali ini Womanesia akan mengenal lebih dekat Sariamin Ismail. Yuk, Simak!

Mengenal Sosok Sariamin Ismail

Sariamin Ismail
Sumber foto:kompas.com

Novelis wanita asal Minang ini memiliki nama asli Basariah, tetapi nama itu kemudian diganti dengan Sariamin lalu dia menambahkan nama suaminya Ismail, sebagai nama belakangnya.

Ia lahir di Talu, Sumatera Barat dan orang tuanya termasuk orang berada dan memiliki jabatan terpandang pada zaman itu sehingga ia dapat mengenyam pendidikan yang baik, yakni di Sekolah Gubernemen.

Di masa ini dia sudah menggemari hobi menulis dan ketika menginjak umur sepuluh tahun, dia menulis karangan berupa syair dan puisi.

Setelah menjalani pendidikannya sembari menulis puisi dan syair, kemudian di tahun 1921 ia melanjutkan studi keguruan di MNS (Meisjes Normaal School) di kota Padang Panjang.

Pada masa ini aktivitas kepenulisan Sariamin terus terasah dan melebar. Ia sering mengikuti lomba dalam bidang penulisan puisi, sajak, dan prosa.

Baca Juga: 5 Fakta Menarik Sarah Gilbert, Ilmuwan Cerdas di Balik Vaksin AstraZaneca

Sariamin Ismail adalah Guru, Penulis dan juga seorang Istri

Sariamin adalah seorang pengajar di MVS atau (Meisjes Vervlog School) yang berada di Bengkulu. Kemampuan dan kepandaiannya membuat dia dipercaya untuk mengepalai sekolah itu.

Selama menjadi Kepala Sekolah (1925‐1926) ia mampu mengelola lembaga pendidikan tersebut dilihat dari pertumbuhan pendidikan dan semakin bertambahnya murid yang masuk.

Meski dia berprofesi sebagai guru, pengelola yayasan dan aktivis, kiprahnya dalam dunia kepenulisan terus melebar hingga dia pun pernah menjadi wartawan dan menulis di surat kabar maupun majalah setempat.

Sariamin Ismail
ARSIP KOMPAS Tulisan tentang Sariamin Ismail di harian Kompas edisi 15 September 1972 (Sumber foto: kompas.com

Saat inilah dia mulai menyuarakan ketidakadilan yang terjadi pada saat itu lewat tulisan yang tegas dan tajam dalam melawan penjajahan. Dia adalah pahlawan bersenjatakan pena dengan peluru sastra.

Aktivitas Sariamin bahkan sempat menuai polemik dan hal ini menjadikan dia menyembunyikan identitasnya sebagai penulis dengan nama pena yang berganti-ganti.

Beberapa namanya seperti Selasih, Sri Gunung, Bundo Kanduang, ibu Sejati, Sri Tanjung, Seleguri atau Selasih Seleguri, dan juga Mande Rubiah. Konon nama-nama pena itu bertujuan untuk menghindari Kolonial Belanda.

Pada tahun 1933 dia pun menerbitkan novelnya yang pertama, Kalau Tak Untung kemudian menyusul. Tak lama disusul novel keduanya di tahun 1937 berjudul Karena Keadaan.

Dia terus aktif menulis, berorganisasi dan mengajar hingga akhirnya mengundurkan diri pada tahun 1939 dari MVS di Padang Panjang akibat tuduhan politik yang menerpanya. Dua tahun kemudian dia kembali menjadi guru honor/bantu di Payakumbuh.

Novelis wanita pertama dari bangsa pertiwi ini kemudian menikah pada tahun 1941 dan dikaruniai dua orang anak. bersama sang suami dia pun ikut pindah ke Teluk Kuantan, Riau.

Di sana dia kembali menjadi guru meski awalnya hanya ingin fokus mengurus rumah tangga dan anak-anaknya. Tepat pada tahun 1942, dia kembali mendapat amanah menjadi Kepala Sekolah di MVS pertama di kota itu.

Tahun-tahun selanjutnya, Dia habiskan untuk mencerdaskan anak bangsa dan turut berpartisipasi dalam dunia politik.

Hal itu diwujudkannya dengan menjadi anggota DPRD wilayah Riau setelah Indonesia menyatakan kemerdekaan tahun 1945.

Meski begitu dia terus menulis hingga akhir hayatnya. Karya-karyanya yang berupa puisi dan cerita untuk anak juga ia terbitkan di tahun 1986, dan pada tahun ini juga dia membuat karya berupa novel yang berjudul Cerita Kak Murai dan juga novel Kembali ke Pangkuan Ayah. Dia pun sempat menghasilkan buku kumpulan puisi sebelum akhirnya wafat di tahun 1995.

Baca Juga: 5 Mitos Melamar Pekerjaan

Wanita Pengukir Sejarah Bersahaja

Sariamin adalah wanita pengukir sejarah yang menginspirasi terutama bagi kaum perempuan.

Dari kisah hidupnya kita diberi pemahaman bahwa wanita memiliki kemampuan yang sama hebatnya dengan kaum lelaki.

Meski dia aktif di dunia kerja dan organisasi serta menulis, Sariamin tetaplah seorang ibu yang berhasil menjaga rumah tangga dan mendidik anak-anaknya.

Salah satu anaknya adalah Tini Hadad yang juga dikenal sebagai aktivis yang pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia dan juga sebagai ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional.

Prestasi dan kontribusi yang diraih oleh Sariamin Ismail semasa hidupnya menjadikan dia sebagai tokoh yang penting dan berpengaruh.

Hal tersebut kemudian menjadi salah satu alasan Google membuat gambar doodle pada hari ulang tahunnya akhir Juli lalu. Gambar itu dibuat oleh seniman dari Indonesia bernama Ayang Cempaka.