Menuju Indonesia Inklusif, Waktunya Bergerak Bersama untuk Mendukung Para Penyandang Disabilitas

Memasuki dunia pendidikan dengan menjadi guru tahun 2015 silam, benar -benar membuka mata saya.

Para penyandang disabilitas yang kerap mengalami diskriminasi, patut mendapatkan perlakuan yang sama. Layaknya seperti manusia lainnya yang merasa normal.

Mereka juga punya hak untuk mengakses bidang apapun. Baik bidang pendidikan maupun dunia usaha. Saya sendiri bersyukur bisa masuk ke sebuah sekolah inklusi.

Perlahan, cara pandang saya kepada penyandang disabilitas mulai berubah.

Jika diamati dengan lebih seksama. Meski nampak memiliki kekurangan. Para penyandang disabilitas ini punya banyak keistimewaan yang tak biasa. Saya sendiri kadang sampai berdecak kagum saat melihat keseharian siswa-siswa inklusi saya.

Keistimewaan Para Penyandang Disabilitas

Seorang muri saya bernama Gustaf. Dia adalah penyandang autisme. Ia sangat aktif dan tak bisa fokus dalam waktu yang lama.

Tapi kepolosannya selalu membuat siapapun tertawa bahagia.

Hal yang membuat haru, Gustaf memiliki daya ingat yang sangat tinggi. Ia bahkab hafal semua tanggal lahir dari warga sekolah. Mulai dari guru, admin, siswa, sampai security dan OB.

Setiap kali ada yang ulang tahu, Gustaf menjadi orang pertma yang mengucapkan selamat. Sampai-sampai orang yang berulang tahun sendir sangat berterima kasih pada Gustaf. Sebab ia melupakan tanggal lahirnya.

Itu hanya satu dari sekian kisah inspiratif dari penyandang disabilitas. Yang jelas, saya tak pernah berhebti kagum kepada mereka.

Peluang Kerja Bagi Para Disabilitas

Adanya sekolah inklusi ikut mendorong kesadaran masyarakat dalam menerima penyandan disabilitas dalam kehidupan sehari-hari. Namun, pengabaian dan penolakan pada mereka tak sepenuhnya hilang.

Memasuki usia bekerja, tantangan yang dihadapi para penyandang disabilitas lebih sulit lagi. Mungkin tak banyak perusahaan yang mau menerima mereka. Untungnya ada angin segar yang melegakan saya.

24 Agustus 2021 lalu, saya mengikuti webinar yang diselenggarakan oleh KBR dan NLR Indonesia. Bertajuk Yang Muda Yang Progresif untuk Indonesia Inklusif. Salah satu pematerinya bernama Agustina Cipta Rahayu.

Beliau adalah Founder dsn CEO dar PT. Botania Hijau. Produsen produk kesehatan dan kecantikan alami. Semua bahannya terbuat dari bahan organik. Sehingga aman untuk tubuh dan kulit dalan jangka panjang.

Perusahaan ini menerima pekerja disabilitas. Sang founder bahkan bercerita beberapa pekerja disabipplitasnya dapat bekerja baik. Salah satu dari mereka ada yang memiliki tingkat ketilian yang sangat tinggi.

Bisa mengemas barang dengan amat sangat rapi seperti pengemasan barang di Negara Jepang.

Cerita lainnya, seorang pekerja lainnya memiliki penciuman yang sangat tajam. Hal ini sangat membantu proses produksi dari Pt. Botania Hijau.Terutama dalam hal menganali berbagai bahan produksi.

Saya berharap, perusahaan-perusahaan lain juga membuka peluang kerja untuk para penyandang disabilitas.

OYPMK Harus Mendapat Perhatian

OYPMK atau Orang Yang Pernah Mengalami Kusta juga rentan mengalami kecacatan. Sebab penyakit yang satu ini jika tak ditanangi sejak dibi bisa berakibat fatal. Menimbulkan kerusakan pada kaki dan tangan. Bahkan bisa berakhir dengan amputani.

Karena hal ini, penyandang kusta juga sering menerima diskriminasi. Ditolak dan tak diterima oleh lingkunhan sekitar. Padahal penyakit ini tingkat menularnya sangat rendah. Hanya 5% saja.

NLR merupakan LSM asal Belanda. Berdiri sejak tahun 1967. NLR memiliki komitmen untuk ikut serta menanggulangi kusta.

NLR siap membantu para penyandang kusta yang sulit mendapat pekerjaan karena minim akses. Selain ity, NLR juga menerima kerjasama dari berbagai institusi pendidikan untuk memberikan edukasi tenyang kusta.

Kusta merupakan penyakit yang sudah ada sejak 600 SM. Namun sampai saat ini penyakit kusta masih menjangkit beberapa orang di dunia ini. Sebanyak 16 kasus kusta di dunia menjangkit orang-orang muda usia 15 tahun.

Di Indonesia sendiri, jumlah kasus kusta yang menyerang anak masih tinggi.
Ciri-ciri awal kusta adalah mengalami bercak-bercak putih di bagian kulit. Area sekitar bercat terasa mati rasa.

Jika ciri-ciri ini terlihat, maka harus segera pergi ke puskesmas untuk mendapatkan pengobatan secara gratis. Untuk menghindari terjadinya kecacatan lebih lanjut.

Mari Bergerak Bersama-Sama untuk Mendukung Para Penyandang Disabilitas dan OYPMK

Saat ini sudah banyak sekolah inklusi di berbagai kota besar. Semoga program sekolah inklusi ini juga berkembang ke desa-desa. Agar semakin banyak orang yang sadar bahwa penyandang disabilitas juga memiliki hak yang sama dalam kehidupan sehari-hari.

Tak berhenti di dunia pendidikan. Dunia usaha juga harus membuka diri. Sebab banyak penyandang disabilitas yang memiliki keterampilan yang mumpuni.

Pemerintah pun juga mencanangkan banyak program untuk mendukung para penyandang disabilitas dan OYPMK ini.
Ada juga LSM seperti NLR yang ikut serta menanggulangi masalag kusta. Di mana penyandang lusta juga rentan mengalami kecacatan.

Namun hal ini, menurut saya menjadi tanggungjawab semua orang. Setiap pribadi harus mengambil bagian. Minimal tak berlaku diskriminasi dan kalau bisa ikut mengedukasi masyarakat. Demi menuju Indonesia yang Inklusif.