Duck Syndrome, Topeng Andalan Mr & Mrs Perfect

Hi, Womanesia, mengawali bulan Februari, kali ini website yang lebih banyak mengulas tentang perempuan ini, mau ngomongin soal “Duck Syndrome”.

Udah pada tahu, apa yang dimaksud duck syndrome?

Duck syndrome pertama kali diperkenalkan di Universitas Standford, Amerika Serikat untuk mendeskripsikan para mahasiswanya yang mengalami gejala tersebut.

Sebuah gejala dimana layaknya seekor bebek yang tengah asyik berenang dengan tenang, namun siapa sangka di bawah permukaan air, kaki bebek tersebut berjuang keras agar tidak tenggelam dan tetap berada di atas permukaan air.

Nah, begitu pula kondisi para mahasiswa yang terlihat begitu santai dan tampak menikmati hidup, namun ternyata di balik itu semua hanyalah kamuflase untuk menutupi keadaan yang sebenarnya.

Para mahasiswa itu berjuang habis-habisan agar tetap berada di urutan atas dalam akademik, ada yang berpacu untuk tetap berada di posisi tertinggi setiap lomba yang diikutinya, dan ada pula yang mati-matian mengejar cita-cita agar menjadi orang sukses dan keren di mata masyarakat.

Kamu pernah mengalami ini, Womanesia? Baca yuk, sampai habis artikel kali ini!

Baca juga: Seberapa Sehat Mentalmu? Yuk, Cek Mental Health Online secara Gratis

Siapa Saja Korban Duck Syndrome Itu?

Duck Syndrome

Sindrom ini diteliti oleh para ahli banyak menyerang remaja usia belia dan dewasa muda. Kaum yang rentan akan popularitas dan persaingan yang ketat ini acap kali mengalami hal-hal dimana mereka dituntut untuk bisa mengatasi tekanan hidup baik, yang muncul dari diri sendiri maupun faktor orang tua dan lingkungan.  

Para pelajar, mahasiswa dan eksekutif muda banyak menghadapi tekanan untuk bisa menjadi yang terbaik di lingkungan, mencapai kemampuan finansial yang mapan, masuk universitas bergengsi, menjadi anak yang baik, tidak boleh bertingkah seenaknya, dan masih banyak tuntutan lain yang menyergap meeka pada suatu kondisi yang rigid.

Faktor Pencetus Duck Syndrome

Beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya sindrom bebek ini, antara lain:

1. Pola didik orang tua yang terlalu over protektif

2. Tuntutan sejak kecil untuk selalu menjadi yang terbaik di lingkungan. Misalnya menjadi juara kelas, juara lomba, jago pidato, jago nari dan sebagainya

3. Persaingan antar saudara di rumah

4. Orang tua yang suka membanding-bandingkan prestasi anak yang satu dengan yang lain

5. Trauma masa kecil, seperti mengalami KDRT, kesulitan ekonomi, pelecehan baik secara verbal maupun tindakan

6. Rasa percaya diri yang rendah

7. Kurangnya apresiasi dari pihak keluarga, sekolah, dan lingkungan

8. Ekspektasi berlebih yang dibebankan orang tua dan lingkungan

Baca juga: Wajib Tahu! 4 Jenis Parenting Style 

Gejala Yang Nampak Pada Seorang Duck Syndrome

Biasanya seseorang yang mengalami sindrom ini tidak menampakkan gejala apapun. Dia akan terlihat tenang dan baik-baik saja. Sehingga cukup sulit untuk mendeteksi apakah seseorang itu mengalami masalah serupa atau tidak. 

Namun ada beberapa hal yang bisa kita amati dari sikap dan perilakunya sehari-hari.

1. Suka menyendiri

Hal ini cukup mudah diamati jika dalam suatu kondisi dimana ada keramainan namun dia memilih untuk mojok sendirian.

2. Gelisah

Orang tersebut mau terbuka dan bicara dari hati ke hati kepada seseorang yang dia percaya untuk jujur mengatakan bahwa dia tengah gelisah menghadapi suatu masalah

3. Terlihat euphoria berlebihan

 Wajar jika seseorang merasa excited menghadapi hal yang menyenangkan, namun reaksi yang over akan memberi isyarat bahwa ada sesuatu yang tidak beres di balik itu.

4. Merasa gagal dalam mencapai sesuatu

5. Merasa tidak berguna dan selalu melihat ke atas bahwa orang lain selalu lebih segalanya.

6. Tampak ingin selalu menjadi center of point, dimana dia akan tampil untuk menjadi si sempurna yang dielu-elukan banyak orang

Duck syndrome sampai saat ini menurut medicinet.com tidak resmi dinyatakan sebagai salah satu penyakit mental. Namun demikian, jika hal ini dibiarkan berlarut-larut dapat menjadi penyebab penyakit mental depresi berat yang berpotensi melakukan suicide

Penanganan Untuk Seorang Duck Syndrome

Walau gejala sindrom ini tidak resmi dinyatakan sebagai penyakit mental, namun tetap kita harus waspada jika menyadari bahwa ada orang sekitar kita yang mengalami hal ini. Tindakan pencegahan dan penanganan yang tepat dan tidak terlambat sangat berfaedah untuk mencegah hal buruk terjadi.

1. Bina hubungan baik sehingga tercipta trust sehingga orang tersebut mau mengakui bahwa dirinya mengalami tekanan. Hal ini awal yang baik, karena tidak mungkin bisa mengatasi suatu masalah jika orang tesebut tidak merasa atau mengakui dia memiliki masalah.

2. Lakukan konseling kepada ahlinya, bisa dokter, psikolog, psikiatri atau seseorang yang memang paham mengenai kesehatan mental.

3. Biasanya tenaga medis terkait akan memberikan support berupa obat-obatan dan psikoterapi.

Menghadapi kesulitan dan tekanan hidup adalah bagian dari proses hidup itu sendiri. Hal ini akan terjadi pada setiap individu. Namun ada kalanya tekanan lingkungan menambah parah tekanan alami yang harus kita hadapi. 

Ada baiknya para orang tua untuk tidak terlalu over protektif dan offensive terhadap kehidupan anak-anaknya.

Mereka adalah pribadi mandiri yang tidak bisa kita campuri semua sisi kehidupannya. Biarkan anak-anak menjadi individu yang bertumbuh dan berkembang secara alami tanpa ada tuntutan berlebih dari kita.

Hindari untuk memberikan beban ekspektasi berlebih pada anak-anak, karena hal itu bisa jadi penyebab paling tinggi terkena duck syndrome di kemudian hari. 

Yuk, lebih aware dengan diri sendiri, ya, Womanesia!