Cara Perempuan Millenial Menghadapi Single Shaming dengan Elegan

Cara perempuan millenial menghadapi single shaming – Hai, Womanesia! Ditanya “Kapan nikah” apakah sesuatu yang lumrah atau bikin gerah?

Jujur nih, dulu waktu masih lajang sih saya abai dengan pertanyaan kapan nikah. Tetapi sewaktu menjadi single parent, pertanyaan tersebut rasanya sensitif banget. Bahkan sempat, lo, saya sembunyi dari saudara saat momen silaturahmi lebaran hanya gara-gara takut menerima pertanyaan seputar jodoh. Saya juga pernah menghindari undangan reuni teman SMA maupun kuliah gara-gara takut mendengar pertanyaan kapan nikah. Duh, cemen banget? Banget!

Saya membayangkan pertanyaan kapan nikah itu bikin nggak nyaman, sekalipun niatnya bercanda. Kadang orang yang bertanya kepada kita, mereka nggak sadar sudah berapa kali menanyakan pertanyaan tersebut. Tak jarang, pertanyaan yang menurut orang lain receh bisa menjadi bullying sebuah status. Atau isilah kerennya adalah single shaming.

Pernah ngalamin nggak sih? Jika jawabannya pernah, pasti Womanesia yang membaca tulisan saya ini bakal ngakak sekaligus teringat betapa gokilnya mindset kita di masa lalu terkait pertanyaan kapan nikah yang menjadi penyebab lahirnya istilah single shaming.

Kenapa saya ngomongin mindset?

Sebab saya pernah merasakan single shaming meskipun saat saya mengalaminya tidak sedang berstatus lajang, melainkan double rasa single. Ada perasaan kesal, marah, sensitif hingga depresi mendengar pertanyaan kapan nikah.

Setelah belajar berpikiran positif, baik single karena pilihan maupun single dalam masa penantian. Keduanya merupakan sesuatu yang lumrah. Jangan ambil pusing! Sebab sejatinya tidak ada perbedaan yang mencolok antara mereka berstatus single ataupun sudah memiliki pasangan. Kita sama -sama bisa berkarya, bermanfaat buat orang lain, juga bisa bahagia tanpa tuntutan apapun.

Apa Itu Single Shaming?

Bagi kalangan jomlo, Single shaming bukan hal baru lagi. Meski demikian, Womanesia harus tahu apa saja yang menyebabkan single shaming.

Single shaming terhadap perempuan terjadi ketika ada yang merendahkan seseorang dengan usia lebih dari 25 tahun tapi masih berstatus lajang.

Single shaming itu pilihan
Sumber gambar: www.pinterest.com

Stigma masyarakat terkadang membebankan perempuan yang belum menikah, mulai dari anggapan tidak laku, perawan tua, hingga terlalu memilih. Bahkan, ada pendapat yang mengatakan buat apa perempuan sekolah tinggi dan mempunyai jabatan yang baik tapi belum menikah.

Pada akhirnya, banyak orang di sekitar kita mengambil kesimpulan bahwa kesuksesan seorang perempuan adalah ketika dia sudah menikah dan memiliki anak.

Single shaming menjadikan status belum menikah sebagai sesuatu yang rendah. Pelakunya mulai dari keluarga terdekat, teman, tetangga, hingga masyarakat yang bahkan tidak kenal sekalipun. Artis pun kerap menjadi korban single shaming. Jadi, single shaming bisa terjadi pada semua kalangan.

Tidak Ada Salahnya Memberi Alasan Kenapa Masih Melajang

Cara mengatasi Single shaming
Sumber gambar: Hipwee.com

Jodoh, maut, dan rezeki sudah diatur Tuhan. Jadi, sekuat apapun kita berusaha jika Tuhan berkata belum, nanti, atau tidak, maka semua belum terjadi. Termasuk urusan jodoh. Namun, di luar takdir Tuhan, tentunya ada beberapa alasan  kenapa belum mau bersanding di pelaminan.

1. Masih Belum Mau Terikat dengan Tanggung jawab Pernikahan

Setelah menikah dan berstatus sebagai seorang istri, tentunya akan melekat tanggung jawab dan dapat mengubah hidup seorang perempuan.

Belum lagi jika sudah memiliki anak, maka akan bertambah pula tanggung jawab. Jika sudah mantap menikah, maka harus siap kebebasannya menjadi terbatas dan siap menerima tanggung jawab. Sebaliknya, jika belum siap menanggung tanggungjawab seorang istri, memilih Single adalah pilihan terbaik.

2. Ingin Membangun Karier dan Meraih Impian

Membangun karier tentu tidak semudah membalikan telapak tangan, butuh waktu, usaha, dan kerja keras. Belum lagi daftar impian yang ingin direalisasikan, seperti travelling atau membeli mobil dan rumah. Pernikahan mungkin belum masuk ke dalam to do list kehidupan untuk 5 tahun ke depan.

3. Orang Tua dan Keluarga Prioritas Utama

Tidak dapat dimungkiri, ada di antara kita yang merasa jika orang tua dan keluarga adalah prioritas utama.

Womanesia ingin mencurahkan perhatian serta materi untuk mereka. Jika menikah  perhatian dan materi akan terbagi. Karena itu menunda pernikahan menjadi pilihan terbaik untuk sementara waktu.

4. Merasa Belum Mapan Secara Finansial

Ada yang sepakat jika berumah tangga tidak hanya bermodalkan cinta saja. Kaum millenial yang hidup di zaman modern pasti mulai memikirkan finansial pasca menikah nanti, mulai dari tempat tinggal, biaya hidup, hingga biaya pendidikan anak nantinya.

Finansial tidak selamanya menjadi tanggung jawab laki-laki saja. Alasan inilah yang menyebabkan perempuan lebih aware untuk mempersiapkan finansial sebelum menikah demi mencapai pernikahan yang bahagia dan merdeka secara finansial.

5. Trauma Percintaan 

Tidak semua orang dengan mudah melupakan kisah kelam percintaannya. Trauma masa lalu berpengaruh pada relationship di masa sekarang.

Karena itu ada perempuan yang betah sendiri dan ragu untuk melangkah ke jenjang pernikahan meski teman-temannya sudah sold out alias menikah terlebih dahulu.

Begini Perempuan Millenial Menghadapi Single Shaming dengan Elegan dan Cerdas 

Cara menghindari single shaming

Womanesia, tidak selamanya kita bisa mengontrol apa yang ingin orang lain lakukan dan ucapkan. Tapi, bukan berarti kita hanya diam saja. Termasuk ketika menghadapi single shaming yang masih saja sering terjadi di zaman modern sekarang ini, baik secara langsung atau melalui media sosial.

Sebaiknya, Womanesia tidak perlu marah dan berkoar-koar karena ada cara elegan yang mencerminkan perempuan millenial yang smart.

1. Atasi Single Shamming dengan Merespon Secukupnya

Jika faktanya memang masih sendiri, tidak perlu ‘ngotot’ menjelaskan panjang lebar tentang kehidupan asmara.

Cukup merespon secukupnya, misal doakan saya segera menemukan belahan jiwa atau Tuhan belum mempertemukan saya dengan orang yang tepat. Jika single shaming yang dilakukan dirasa berlebihan, cukup hentikan percakapan dan pergi menghindar.

2. Cerdas Atasi Single Shaming dengan Alihkan ke Topik Lain

Ada banyak sekali topik yang bisa dibahas selain tentang jodoh. Misal, isu terkini, gosip artis, karier, dan lifestyle. Tunjukan bahwa kita adalah perempuan pintar yang tidak melulu berbicara tentang asmara.

3. Stop Single Shamming, Tonjolkan Kelebihan 

Meski tidak bermaksud pamer, sesekali ada baiknya tunjukan kelebihan yang kita miliki, seperti karier yang cemerlang dan prestasi yang diraih sehingga kita berhak mendapatkan predikat high quality jomlo bukan jomlo baper atau jomlo ngenes yang sehari-harinya diliputi dengan kegalauan dan kesedihan.

4. Fokus pada Kebahagiaan Diri dan Menikmati Waktu Sendiri

Ketika Womanesia memang belum merencanakan menikah dalam waktu dekat, itu artinya kita mempunyai kesempatan untuk menikmati waktu sendiri. Misal, travelling, membeli barang branded, work hard dan pulang malam tanpa ada yang perlu dipikirkan, hingga nongkrong bersama teman laki-laki. Menghabiskan masa sendiri dengan berbagai kegiatan menyenangkan tanpa beban dan tanggung jawab tentunya.

5. Memberitahu Bahwa Fokus Saat Ini Bukan Menikah

Waktu yang tepat untuk menikah setiap orang tidak selalu sama. Bisa jadi umur 24 tahun bagi A sudah waktunya menikah, tapi bagi B umur segitu masih terlalu muda.

Bahkan, diusia 30 tahun saat banyak orang menganggap usia tersebut sudah matang dan sudah waktunya menikah pun sah-sah saja jika ada yang beranggapan prioritasnya masih pekerjaan dan karier.

6. Menebar Kebaikan dan Bermanfaat Bagi Orang Lain

Pernah berpikir jika mungkin Tuhan punya rencana mengapa Womanesia belum menikah?

Mungkin dengan kesendirian, kita bisa berbakti dan tinggal bersama orang tua di masa pensiun, merawatnya, mengantarnya check up rutin tanpa takut menelantarkan anak dan pasangan. Kesendirian bisa membuat seseorang menjadi lebih berarti dan bermanfaat bagi orang disekitar, lo.

Womanesia, Single shaming memang masih sering sekali terjadi di negara kita. Lakukan segala sesuatu yang membuat bahagia dan memberikan manfaat serta kebahagiaan bagi orang di sekitar. Jangan sampai waktu terbuang hanya bersedih memikirkan pasangan.

Mengenai komentar buruk yang datang silih berganti, cukup tutup telinga karena yang terpenting membuat diri menjadi lebih baik ke depan dan selalu berusaha berpikir positif.

Yakinlah, bahwa segala sesuatu sudah ditakdirkan Tuhan, mulai dari hidup, mati, rezeki, dan jodoh. Tetap berdoa dan berusaha serta menikmati hidup. Ingatkan diri untuk tidak terlalu khawatir perihal jodoh. Jika sudah waktunya maka jodoh tak akan kemana.

Tetap semangat womanesia!